Investasi untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil di industri aviasi (II) Tips perjalanan yang aman, nyaman dan murah - Teknologi Angkutan Darat, Laut dan Udara: Investasi untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil di industri aviasi (II)

Selasa, 23 Oktober 2012

Investasi untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil di industri aviasi (II)

Terima kasih untuk yang sudah memberikan komentar bagian I dari tulisan ini. Dalam bagian 2 ini dibahas pengembangan bahan bakar alternatis yang bukan lagi berasal dari bahan bakar fosil. Dengan bahan bakar alternatif, maskapai dapat mengurangi emisi CO2-nya maupun emisi lainnya seperti NOx tanpa mengurangi konsumsi bahan bakarnya.
Riset bahan bakar alternatif diarahkan pada penggunaan tumbuhan dan produknya untuk menghasilkan biofuel. Ide dasarnya adalah pertumbuhan tanaman untuk menghasilkan biofuel menyerap CO2 dari udara sebelum biofuel dipergunakan.
Biofuel diklasifiksikan dalam tiga golongan, dengan golongan pertama berasal dari biomassa yang juga bahan makanan tradisional seperti kacang-kacangan maupun kelapa. Namun karena bahan makanan dialihkan untuk keperluan biofuel, maka harga bahan pangan akan meningkat dan perlu penambahan lahan untuk menanam bahan tersebut. Hal itu bisa mengakibatkan berkurangnya lahan hutan, erosi, dan penambahan pemakaian air. Jadi walaupun secara bisnis memungkinkan namun dilihat dari aspek konsumsi, penggunaannya untuk bahan bakar di bisnis penerbangan sebaiknya dihindari.
Golongan kedua berasal dari non bahan pangan seperti sisa tumbuhan setelah panen, serbuk gergaji, sampah perkotaan, maupun tumbuhan yang tidak bisa dimakan. Karena dalam pertumbuhannya, tanaman telah mengisap CO2 dari udara, IATA berpendapat dalam siklusnya emisi yang dihasilkan 60% lebih rendah daripada bahan bakar jet tradisional. Tumbuhan yang termasuk dalam golongan ini adalah camelina dan pohon jarak (jatropha). Camelina mengandung 35-40% minyak, dan menurut IATA satu hektar dapat menghasilkan 2.500-3.000 kg setiap 100 hari. Jadi setiap hektar bisa mencapai 1.200 kg minyak dan untuk jenis-jenis tertentu bisa lebih. Boeing dan UOP berkerjasama untuk meningkatkan kelangsungan komersial bahan bakar ini.
Pohon jarak sempat dikembangkan di negeri ini untuk bahan bakar pesawat pada jaman kolonialisme Jepang. Tanaman ini dapat tumbuh pada hampir semua jenis lahan bahkan di lahan terlantar dan ditempat yang tidak cocok untuk pertanian. Hasil minyaknya 30-40%, setiap hektar tanaman ini menghasilkan 2 ton sehingga hasil minyaknya sekitar 800kg. Dengan dana dari Boeing, Yale University meneliti keuntungan socio-economic dan lingkungan pada pertanian pohon jarak di Amerika Selatan dan menyatakan bahan bakar yang dihasilkan memiliki efek rumah kaca lebih kecil 60% daripada bahan bakar fosil. Boeing juga terlibat dalam proyek di Abu Dhabi bersama Etihad dan Masdar Institute untuk meneliti tanaman air asin yang cocok untuk menghasilkan biofuel.
Golongan ketiga berasal dari algae yang juga mengkonsumsi CO2, menghasilkan oksigen dan dapat tumbuh di air kotor. Algae menjadi favorit karena hasil minyak yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Dapat tumbuh di berbagai tempat yang mengandung air. Airbus (produsen pesawat), British Airways (maskapai), Cranfield University, Finnair(maskapai), Gatwick Airport, IATA, dan Rolls Royce (produsen mesin pesawat) telah bergabung dalam konsorsium Sustainable Use of Renewable Fuels (SURF) untuk pengembangan microalgae. Algae dapat diproses menjadi biofuel melalui proses hydropressing.
sumber : aircraft commerce