Investasi untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil di industri aviasi (I) Tips perjalanan yang aman, nyaman dan murah - Teknologi Angkutan Darat, Laut dan Udara: Investasi untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil di industri aviasi (I)

Rabu, 17 Oktober 2012

Investasi untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar fosil di industri aviasi (I)

Industri aviasi sejak lama disebut sebagai salah satu industri yang tidak ramah lingkungan, penggunaan bahan bakar yang sangat banyak untuk setiap penerbangan bahkan tuduhan membuang bahan bakar di laut saat ada masalah tekhnikal. Namun dalam kenyataannya kontribusi industri aviasi pada emisi karbondioksida hanya 2-3% saja. Walaupun demikian karena pesawat melepas gasnya pada ketinggian tertentu mendekati atmosfir maka memang pengaruhnya layak mendapatkan perhatian.
Harga bahan bakar yang semakin tinggi, yang juga menjadi komponen utama biaya di bisnis ini menjadi pendorong untuk mencari teknologi yang memungkinkan efisiensi bahan bakar dan kemungkinan untuk mendapatkan bahan bakar alternatif. Salah satu jenis gas rumah kaca yang menjadi perhatian adalah Nitrous Oxides(Nox). NOx mungkin menjadi masalah lingkungan namun dalam kenyataannya efek sebenarnya dari gas ini belum diketahui.
Menurut International Air Transport Association(IATA), biaya penggunaan bahan bakan untuk transportasi udara sudah meningkat 380% dalam sepuluh tahun terakhir. Di tahun 2001 biaya bahan bakan pesawat secara global sebesar US$43 milyar dan di tahun 2011 diperkirakan US$166 milyar.





 Maskapai sebagai operator penerbangan mendorong pabrikan pesawat untuk mampu memproduksi pesawat yang rendah konsumsi bahan bakar dan direspon secara baik oleh para pembuat pesawat. Sebagai contoh, Airbus mulai menawakan A320 Neo dengan bentuk sayap yang dimodifikasi seperti sirip hiu (Sharklets wing) yang diklaim dapat mengurangi konsumsi bahan bakar sampai 12%. Dengan riset yang lebih dalam dan platform yang benar-benar baru dapat dilakukan penghematan sampai 25%. Ke depan diharapkan semakin canggih pesawat maka bahan bakarnya pun lebih irit.






Beberapa metode yang dilakukan operator untuk mengurangi konsumsi bahan bakar antara lain penggunaan kecepatan terbang yang paling hemat bahan bakar dan penggunaan metoda flight despatch yang lebih baik. Beberapa diantaranya bekerjasama dengan pihak yang berwenang dalam penerbangan, termasuk air traffic management / air traffic control dan pengaturan jalur kedatangan dan keberangkatan.
Bahan bakar pesawat secara traditional berasal dari bahan bakar fosil yaitu minyak bumi atau minyak mentah. Memang ada bahan bakar lain yang dikembangkan yaitu bahan bakar sintetis seperti yang dikembangkan oleh Sasol di Afrika Selatan. Mereka mengolahnya dari batubara dengan proses Fischer Tropsch(FT) namun tentu saja proses itu masih digolongkan penggunaan bahan bakar fosil hanya jenisnya saja yang berbeda. Artinya berasal dari bahan yang tidak terbarukan dan tetap mencemari udara. Proses FT mampu mengolah bahan bakar dari batubara, gas, maupun biomass, sehingga mampu menghasilkan bahan bakar coal-to-liquid (CTL), gas-to-liquid (GTL), maupun biomass-to-liquid(BTL). Secara keseluruhan produk tersebut dikenal sebagai bahan bakar Synthetic Paraffinic Kerosene (SPK). Dalam proses pembuatannya bahan bakar ini menghasilkan emisi CO2 yang tinggi.